Hening
"Aku terjatuh, dan semua salahku.Ia menatapku dalam-dalam, kurasa tengah menghibur diri sendiri.
"Lepaskan hatimu, aku tak dapat lagi bergantung disana"
Aku berbalik arah, menahan tangis yang hampir tercurah. Memejamkan mata sepersekian menit.
"Ini mimpi kita, jangan kau sia-siakan"
Tangannya melilit bahuku, jari tangan lainnya menelisik
sela tanganku. Hangat.
"Jangan pergi, aku tetap ingin kau disini"
Ia membalikkan badanku, tatapan kami menyatu. Ada rindu disana.
"Aku bukan takdirmu, tetapi dia. Jauhi aku dari cinta tak berpenghujung ini"
Kurenggangkan pelukannya, kubuang jauh tatapan matanya yg terekam di ingatan.
"Demi Tuhan, ingin kubuat kau sebagai takdirku, sebagai temanku menuju surgaNya"
Belum ia lepas tangannya dari genggaman jemariku yang makin erat kurasakan.
"Tuhan sedang marah dengan tidak membalas cinta kita satu sama lain"
Aku sesak, kujauhi sosoknya dengan mundur perlahan dari depan wajahnya.
"Bunuh aku, dengan cinta Tuhanmu itu"
Tangannya masih menggelayut di genggaman, aku tak sanggup membalikkan badan.
"Kelak malaikat mendengar ingin kita. Ia akan menyampaikan pada Tuhanku. Aku ingin bersamamu"
Kulepaskan perlahan-lahan kaitan tangannya.
"Aku mohon, buktikan padaku kalau Tuhan itu adil"
Ia meraih tanganku lagi, tak berhasil.
"Kubunuh kamu, bawa pulang cintamu pada Tuhanmu. Dia bukan membuatnya untukku"
Kudaratkan tanganku keras-keras di pipinya. Ada air mata yang mengkilat di ujung matanya. Ia menangis.
"Katakan padaNya, aku tak lagi mencintaimu, ubah takdirku"
Kutatap matanya sekali lagi, meyakini hati ini kalau rasa ini adalah cinta dan benci yang fatamorgana.
"Aku menyerah, bunuh hatiku. Tak ada gunanya lagi bila kau tak ada"
Ia memejamkan matanya, tampan sekali.
"Buang jauh cintamu, aku tak membutuhkannya"
Kuhantamkan dirinya jauh, membentur tembok yang sedari tadi menahan nafas melihat dialog diam kami.
"Terima kasih. Sekarang pergilah"
Ia terduduk lemas, matanya sayu, hampir pingsan. Bukannya mendekat, aku justru berbalik badan menjauhinya.
"Matilah kau dengan cintamu itu. Aku akan menemui Tuhan dengan dirinya. Bukan dengan dirimu"
Kupercepat langkah kakiku, sesekali menahan air mata yang hampir jatuh.
Semua ingatan menghantuiku, pertama kali kami bertemu, berjanji untuk menjaga hati masing-masing, memeluknya, menciumnya, menangis, menggenggam tangannya. Semuanya dalam diam, diam tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya. Hingga hari ini, ia yang mati bersama cintanya, dan akulah pembunuhnya. Semua masih dalam diam, sebuah hening yang sudah kuramalkan cerita akhirnya.
"Sudah ketemu dengan orangnya?", tanya seorang sosok tampan sekeluarnya aku dari balik pintu.
"Sudah", kataku tenang.
"Jadi bagaimana?"
"Aku ga suka koleksinya. Kita cari fotografer lain aja untuk foto pernikahan kita yah"
"Oke, sayang. Apapun untukmu"
Sebuah ciuman mendarat di keningku, sedikit melegakan. Tanganku tak lagi gemetar. Kami melangkah perlahan meninggalkan sebuah studio fotografi.
Kutatap nanar sebuah katalog jasa fotografi di dalam mobil dengan sebuah nama di luarnya. Nafasku sesak.
"Tuhan, titip dia untukku. Aku tau Kau membuatnya untukku di kehidupan lainnya nanti".







